Baru Belajar Investasi? Ketahui 5 Contoh Kelas Aset dan Cara Mengelolanya

Uang

Jun 10, 2020

Dalam mengelola portofolio investasi, kamu akan dihadapkan dengan berbagai pilihan asset class (kelas aset). Apa itu kelas aset?

Kelas aset adalah pengelompokan investasi dengan karakteristik yang sama dan terkait dengan hukum dan peraturan yang sama. Asset class terdiri dari instrumen atau produk investasi dengan kecenderungan serupa di pasar.

asset class
Sumber: Fidelity Inernational

Secara historis, apa itu kelas aset ditentukan ke dalam tiga jenis. Yakni asset class utama adalah ekuitas (saham), pendapatan tetap (obligasi), dan cash equivalent atau instrumen pasar uang (money market).

Saat ini, perkembangan kelas aset ini termasuk melingkupi real estate, komoditas, maupun komoditas berjangka (futures), serta derivatif keuangan lainnya, dan bahkan cryptocurrency.

Investasi dalam asset class ini mencakup instrumen berwujud dan tidak berwujud yang diperjualbelikan oleh investor untuk tujuan menghasilkan pendapatan tambahan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Baca juga: Takut Kekayaan Tergerus Waktu? Ini 4 Diversifikasi Portofolio yang Paling Cocok Untukmu!

Berbagai kategori asset class

Sederhananya, asset class adalah pengelompokan sekuritas keuangan yang sebanding. Misalnya, IBM, MSFT, AAPL dikelompokkan dalam asset class berupa stok/saham.

Banyak analis pasar dan penasihat keuangan membagi asset class ini ke dalam lima kategori berikut ini:

#1 Saham atau ekuitas

Ekuitas adalah kepemilikan saham yang diterbitkan oleh perusahaan publik. Di AS, saham-saham ini diperdagangkan di bursa saham seperti NYSE dan NASDAQ. Sementara, di Indonesia, saham-saham ini diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

Potensi keuntungan dari kelas aset ini diperoleh dari kenaikan harga saham atau dengan menerima dividen.

Asset class berupa ekuitas sering dibagi lagi dengan kapitalisasi pasar menjadi saham-saham berkapitalisasi kecil, saham berkapitalisasi menengah, hingga kapitalisasi besar (blue-chip stocks). Di Indonesia, blue-chip stocks ini masuk dalam kategori LQ45.

#2 Obligasi atau investasi pendapatan tetap lainnya

Investasi pendapatan tetap adalah investasi dengan tingkat pengembalian dalam bentuk bunga/kupon. Investasi ini umumnya dianggap berisiko daripada berinvestasi di ekuitas atau asset class lainnya.

#3 Money market dengan uang tunai/cash equivalents

Keuntungan pasar uang terkait likuiditasnya. Dana/modal yang disimpan dalam bentuk uang tunai atau setara kas tentu dapat dengan mudah diakses kapan saja.

#4 Real estate atau aset berwujud lainnya

Real estate dan berbagai aset fisik dianggap sebagai asset class yang menawarkan perlindungan terhadap inflasi. Sifat aset ini membuat aset ini dianggap sebagai aset yang “lebih nyata”.

Dalam hal itu, jenis aset ini berbeda dari aset yang hanya ada dalam bentuk instrumen keuangan seperti investasi derivatif.

#5 Futures (investasi berjangka) dan derivatif keuangan lainnya

Kategori aset ini mencakup kontrak berjangka, pasar valas, options (opsi), dan deretan derivatif keuangan lainnya yang kini makin berkembang.

Derivatif adalah instrumen keuangan yang didasarkan pada, atau berasal dari, aset dasar. Misalnya, opsi saham adalah turunan dari saham.

Opsi saham adalah kontrak yang memberikan hak kepada karyawan perusahaan untuk membeli saham perusahaan dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu pula. Biasanya opsi saham menawarkan harga yang lebih murah dari harga saham di pasar saham.

Baca juga: Mengenal Compound Interest, Konsep Bunga Lipat Ganda dalam Investasi

Strategi memilih dan mengelola asset class

apa itu kelas aset

Dari lima kategori asset class tersebut, kategori masih bisa dipecah lebih detail lagi. Sama seperti halnya “buah” yang memiliki “rasa” berbeda untuk setiap variannya. Begitu pula, satu jenis asset class, misalnya saham, sekalipun juga memiliki ragam kategori.

Suatu saham dapat dikategorikan berupa saham nasional atau saham asing, startup atau perusahaan multinasional, berdasarkan nilai atau pertumbuhan, dsb. Begitu pula kelas aset lainnya dapat dikategorikan ke subkategori tertentu lagi.

Secara umum, manajer investasi mengelola asset class dengan menggunakan langkah-langkah berikut ini:

#1 Menentukan jenis kelas aset (asset class) yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dari portofolio;

#2 Melakukan pertimbangan apakah masing-masing kelas dalam portofolio tergolong normal, over, atau overweight, proses ini disebut sebagai policy atau asset allocation;

#3 Secara strategis menetapkan penyesuaian dalam mengelola portofolio, untuk memperoleh excess return dari fluktuasi harga jangka pendek atau dikenal sebagai market timing;

#4 Memilih secara selektif saham atau obligasi dalam masing-masing asset class untuk memperoleh tingkat keuntungan yang superior, atau dikenal juga sebagai proses security selection

Langkah demi langkah ini diperlukan untuk mencari tahu pengelolaan dana yang paling tepat apabila investor memilih jenis asset class tertentu dan memutuskan untuk memasukkannya ke dalam portofolio mereka.

Selanjutnya, secara berkala manajer investasi akan melakukan evaluasi terhadap strategi asset allocation tersebut. Dalam proses ini, menimbang-nimbang asset class akan menjadi poin utama strategi.

Sumber: Investopedia, Nerd Wallet, Corporate Finance Institute, Blog Kontan

Simak juga:

Tujuh Langkah Mencapai Kebebasan Finansial

Niat Jadi Kolektor Lukisan Pemula? Ketahui Dulu Risiko Investasinya di Sini!

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!