Ekuitas Minus Rp23,92 T, Jiwasraya Bangkrut dan Gagal Penuhi Aturan OJK

Asuransi Jiwasraya bangkrut karena gagal bayar polis kepada para nasabahnya. Kasus Jiwasraya 2019 ini terkait tidak mampunya perusahaan pelat merah ini membayar klaim jatuh tempo para pemegang polis pada akhir 2019 yang nilainya capai hingga Rp13,74 triliun.

Hingga Selasa (17/12), para nasabah masih belum memperoleh kepastian usai datangi kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Banyak nasabah yang datangi kantor BUMN mengaku kecewa karena minimnya respons pemerintah soal kasus perusahaan asuransi milik negara ini.

Respons positif justru datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang pastikan kasus ini akan ditindaklanjuti oleh pemerintah.

kasus jiwasraya 2019

Karenanya, ujar Sri Mulyani, pemerintah akan gandeng pihak kepolisian, kejaksaan agung, dan KPK untuk mengusut kasus Jiwasraya 2019 menyoal asuransi Jiwasraya bangkrut.

Asuransi Jiwasraya bangkrut dan ini tanggung jawab pemerintah. Saat ini, pemerintah dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang melakukan evaluasi corporate governance Jiwasraya.

Macetnya pembayaran klaim polis ini sudah terjadi sejak tahun lalu, ketika pihak perusahaan asuransi Jiwasraya umumkan menunda pembayaran kewajiban polis yang jatuh tempo.

Baca juga: Perusahaan Incaranmu Melantai di Bursa Saham? Ini Tips dan Trik Membeli Saham IPO

Terungkapnya kasus Jiwasraya 2019, terlambatnya pembayaran polis Jiwasraya

Kasus ini diketahui kali pertama lewat laporan nasabah Jiwasraya pada Oktober 2018. Nilai keterlambatan pembayaran polis saat itu capai Rp802 M.

Dengan kondisi itu, para nasabah masih menerima perpanjangan polis yang jatuh tempo hingga setahun ke depan lagi. Selang setahun, polis yang jatuh tempo itu tidak kunjung bisa dicairkan.

Ini yang dorong para nasabah untuk tempuh berbagai jalur agar bisa mencairkan klaim polis mereka. Dari mendatangi pihak OJK, menyambangi kantor kementerian BUMN, hingga ke Komisi VI DPR-RI pun dilakoni.

Para nasabah umumnya mengaku tertarik dengan bunga 9% per tahun yang dijanjikan produk investasi Bancassurance dari Jiwasraya.

Bancassurance adalah layanan bank yang sediakan produk asuransi sebagai perlindungan dan produk investasi jangka panjang. Artinya, bank bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk jual produk asuransi.

Produk Bancassurance JS Proteksi Plan Jiwasraya sejauh ini dipasarkan oleh tujuh bank: BTN, BRI, Bank ANZ, Bank Standard Chartered, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, dan Bank QNB Indonesia.

Para nasabah dijanjikan imbal hasil (return) dari premi yang dibayarkan. Besar bunga produk bervariasi bagi para nasabah untuk tempatkan dananya atau beli produk asuransi sekaligus investasi.

Baca juga: Gojek Dikabarkan Incar dan Berencana Akuisisi 5% Saham Blue Bird

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan Jiwasraya dalam mengelola dana nasabah

Hampir semua perusahaan jasa keuangan mengelola dana nasabah di berbagai instrumen investasi. Perputaran dana dari investasi ini yang dikelola untuk memberi hasil/keuntungan yang dijanjikan kepada nasabah.

Ada empat kesalahan yang dilakukan Jiwasraya sehingga menyebabkan bangkrut bagi perusahaan:

#1 Kesalahan bentuk harga produk (mispricing)

Bunga dari produk Saving Plan Jiwasraya sebesar 9-13% dan guaranteed return lebih tinggi dari pertumbuhan IHSG serta bunga obligasi.

#2 Lemahnya prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi

Jiwasraya tempatkan investasi pada risiko tinggi, yakni 22% pada saham, tetapi yang ditempatkan di LQ45 (saham liquid) hanya 5%. Sebesar 59% ditempatkan pada reksa dana, tetapi hanya 2% yang dikelola oleh top tier manajer investasi Indonesia.

#3 Ada rekayasa harga saham (window dressing)

Diduga ada modus jual-beli saham oleh Jiwasraya, di mana mereka membeli saham overprice dan dijual dengan harga negosiasi ke manajer investasi, untuk kemudian dibeli lagi oleh Jiwasraya.

Hal ini disebutkan oleh Arya Sinulingga, Staf Khusus Kementerian BUMN, sebagai penempatan investasi Jiwasraya pada “saham gorengan”. Alias, saham-saham dengan harga yang harganya bisa naik dan turun dalam waktu singkat.

#4 Desakan dari produk Saving Plan Jiwasraya

Gagalnya pembayaran klaim polis oleh Jiwasraya membuat kepercayaan nasabah turun. Ini sebabkan perusahaan asuransi ini sulit dapatkan suntikan dana segar dari calon nasabah.

Baca juga: 3 Pengusaha Sukses di Industri Media, Siapa yang Paling Kaya?

Kemungkinan kasus Jiwasraya 2019 diselamatkan oleh pemerintah

Diketahui berdasarkan laporan terakhir, nilai aset Jiwasraya per 30 September 2019 adalah sebesar Rp25,68 T. Angka ini tidak sebanding dengan kewajiban yang harus dilunasi perusahaan. Catatan liabilitas perseroan membengkak hingga Rp49,6 T per September 2019.

Angka ini tunjukkan bahwa ekuitas Jiwasraya berada di angka minus Rp23,92 T.

Padahal, menurut peraturan OJK No. 71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, perusahaan asuransi wajib miliki ekuitas paling sedikit Rp100 M.

Untuk perkara dasar ini saja, Jiwasraya gagal penuhi aturan OJK.

Sementara itu, sebagai perusahaan pelat merah, perusahaan berstatus milik negara umumnya memperoleh kucuran modal dari pemerintah dalam bentuk penyertaan modal negara (PMN).

BUMN seperti PT PLN, PT Hutama Karya, PT Geo Dipa Energi, PT BPUI, PT PNM, PT PANN, dan PT SMF akan dapat suntikan modal dari pemerintah pada 2020.

Kriteria memperoleh kucuran modal pada 2020 ditentukan spesifik: mendorong pembangunan infrastruktur, mendorong kedaulatan energi, bergerak pada kedaulatan negara, dan program kelangsungan kredit usaha rakyat (UMKM).

Karenanya, untuk kasus bangkrutnya asuransi Jiwasraya pada 2019 ini, tampaknya tidak akan ada opsi penyertaan modal oleh negara. Hanya saja, pemerintah dapat siapkan opsi penyelamatan Jiwasraya yang bersifat Business to Business (B to B).

Meski, disebutkan oleh Isa Rachmawati, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, akan ada opsi lain untuk melakukan penyelamatan atas kecenderungan asuransi Jiwasraya bangkrut ini.

Sumber: Tirto, CNBC Indonesia, inews, Cermati

Simak juga:

9 Rekomendasi Buku Keuangan Terbaik Ini Dijamin Bikin Kamu ‘Melek’ Finansial

Laundromat, Film Netflix yang Bongkar Pengaruh Panama Papers pada Hidup Orang Kaya

Mencoba Peruntungan di 7 Negara dengan Gaji Tertinggi di Dunia, Minat?

Recent Articles

Related Stories

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here